Perempuan yang pernah berkuliah di STMIK RAHARJA atau lebih sering disapa akrab dengan Green kampus ini menjatuhkan pilihan untuk membuat blog beberapa tahun yang lalu memanfaatkan fasilitas dari blogspot, mungkin dari awalnya dirinya tiada pernah menyangka bahwa suatu saat yang akan datang akan memiliki blog dengan ribuan pengunjung, berikut ini adalah screen shoot halaman profil Rani di Blogspot.

Di blogspot rani memiliki dua buah blog antara lain yaitu, Rani Juliani Site Raharja dan RANI ZonE’s namun dengan keadaan yang jarang di up-date hal ini bisa dilihat dari minimnya posting serta pemeliharaan dan desain template yang masih standar saja. Memang Rani tidak pernah memimpikan mempunyai blog yang dipenuhi dengan ribuan pengunjung, meskipun pada salah satu blognya Rani berharap kepada setiap pengunjung yang datang untuk meninggalkan komentar
tampaknya blog ini lah yang menjadi pilihan Rani untuk mencurahkan isi hatinya, terlihat konsep blog yang dimilikinya lebih kepada sebuah catatan-catatan pribadi. meskipun begitu blog diatas lebih beruntung daripada blog Rani lainnya yang jelas sekali masih perawan tanpa ada satu postingan disitu, seperti yang terlihat di bawah ini
Namun semuanya bukanlah sebuah tolak ukur untuk menilai kepopuleran sebuah blog, karena blog tersebut dapat menjadi populer karena kepopuleran pemiliknya, beberapa tahun lalu saat membuat blog tersebut mungkin Rani tidak pernah memimpikan ribuan pengunjung datang mengunjunginya, tapi sekarang semenjak menjadi selebriti dadakan terkait kasus pembunuhan yang juga menyeret Ketua KPK Non Aktif ke dalam dinginnya tembok penjara, blog Rani seketika menjadi populer, beragam komentar datang di blog tersebut dari yang sekedar iseng berkunjung, ingi mengenal lebih jau siapa Rani, mendukung Rani, mencemooh, serta memasang ilan dadakan. Ternyata teori tentang kepopuleran sebuah blog karena konten maupun manfaat sebuah blog yang selama ini kita serap telah dipatahkan oleh realita blog Rani, dalam waktu singkat blog Rani telah menyedot ribuan pengunjung seperti terlihat pada gambar di bawah ini
Rani – Rani sekarang kamu bukan hanya jadi rebutan di dunia nyata tapi blogmu pun menjadi rebutan untuk dikunjungi, selamat . !!!
Malam Minggu
369shop ku hari ini kau telah hasilkan beberapa lembaran rupiah untukku lewat beberapa pasang sepatu yang tadi dibeli oleh orang.
Si 9873 (truk) kamu hari ini mempunyai karet bundar baru untuk berpacu mencarikan rupiah meski untuk membelikanmu kaki baru itu jutaan rupiah harus dikeluarkan aku tahu kamu tidak akan mengecewakanku, ah tak bosan ku menatap kuning warnamu, meski bak mu terlihat rusak beberapa bagian akibat disambar kijang beberapa waktu lalu. Berjuanglah terus 9873, biar ku bisa hasilkan beberapa teman untukmu lagi.
BTGR 369, malam ini kau tak lagi menjadi primadona seperti beberapa hari kemaren, entah karena cuaca atau karena orang – orang sedang sibuk bercinta menghabiskan malam malam minggu mereka, aku cukup puas melihat beberapa penggemar setia mu pulang dengan tersenyum setelah menghabiskan piring mereka atau menenteng bungkusan plastik hitam dari kita, terima kasih Allah.
“S-90, sikapmu malam ini manis sekali, terima kasih untuk segala yang kau berikan untukku, ternyata dicintai itu indah, dan mencintai itu menyenangkan. Memanjakanmu adalah kompensasi atas segala semangat yang kau berikan, kau telah melengkapi semua. . . Thanks Untukmu, untuk Mamah, Papah dan Dimas, sampaikan salam dari Ku”.
Dan akhirnya . . .
Aku harus menulis apa, ketika tangan ini mulai tertawa dengan jari-jarinya yang menari riang,
Aku harus ungkapkan apa, ketika hati berbunga, terbang mengudara,
Aku harus . . . entahlah, pastinya tiada rasa selain indah, damai dan tentunya bahagia . . .
Aku harus Bersyukur.
Terima Kasih Tuhan untuk hidup yang indah ini,
Terima Kasih kepada Orang Tua ku
Terima Kasih Kepada “S-90″, inspirasiku . . .
Terima Kasih kepada Superman Is Dead, Aura Kasih, Kangen Band, Peter Pan yang sudah menemaniku dengan karya musik kalian saat aku menuliskan ini
Berangkat dari kegundahan hati dan beragam alasan tersebut aku mencoba untuk menerobos dunia kerja dan memilih hengkang serta memulai sebuah lembaran baru dengan membuka usaha kecil pribadi dimana aku bisa menjadi seorang manajer untuk diriku pribadi, meski aku harus mendapatkan titel PENGANGGURAN, aku sendiri tidak pernah merasa memiliki pekerjaan, akupun tidak ingin merasa pusing dengan ketakutan akan omongan para teman, para perempuan yang aku sukai bahkan para ibu dari semua mantan pacar yang menuntut seseorang yang mapan yang dinilai dari sebuah NIP atau PEGAWAI (PNS/SWASTA), atau sekedar pertanyaan mau diberi makan apa anak istri.
Aku merasa pengangguran dan aku senang akan hal itu, sehingga semua target serta rahasia masa depan yang sedang kurancang hanya aku dan Allah yang mengetahuinya, aku merasa bersyukur (“Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” QS. Luqman 31:12) berkat titel PENGANGGURAN MENULIS MIMPI yang kusandang aku memiliki semangat baru, semangat untuk kembali bekerja, meski kutahu 369shop ku kini sedang memerlukan perhatian, tapi kucoba untuk membagi waktuku dengan tujuan baruku, karena keberhasilan seorang wirausahawan mungkin hanya dinilai dengan kemewahan dan materi yang dimilikinya, akupun hingga saat ini tidak pernah merasa memiliki pekerjaan, 369shop ku yang pada awalnya hanya bergerak di bidang FASHION kini sudah mulai mencoba untuk menggeliat di bidang KULINER ( BATAGOR 369 ), semoga saja untuk selanjutnya akupun bisa mewujudkan cita-cita untuk menambah beberapa armada angkutan untuk kemudian membuka usaha pengiriman barang lewat darat melayani rute Kal-Sel dan Kal-Teng, karena selama ini karena keterbatasan armada yang ada hanya bisa disewakan pada para pemilik usaha pengiriman barang yang telah ada.
Pengangguran Menulis Mimpi, rangkaian kesibukan dan kegundahan yang menyelimutiku kini mulai mengusik otak ku dan menggerakkan hati untuk kembali mendapatkan titel Pegawai ( swasta / negeri menurutku tak ada bedanya ), sekarang kudapatkan lagi semangat ku untuk bekerja dengan perusahaan orang, meski dengan berat hati kucoba sedikit meninggalkan 369 shop ku yang telah menjadi hobby ku selama ini.
Mungkin pengakuan seseorang memiliki pekerjaan sekarang dianggap sangat berharga, pertanyaan nya adalah kalau kita semua berharap bisa bekerja ditempat orang atau diperusahaan maupun instansi pemerintah, siapa yang akan membuat lapangan pekerjaan ( “Barang siapa yang menolong kesusahan orang muslim, maka Allah ta’ala akan menolongnya dari kesusahan pada hari kiamat.” HR. Bukhari ).
Apalah artinya itu, aku lebih menyukai menyandang titel PENGANGGURAN MENULIS MIMPI, berapapun besarnya income yang kudapatkan dan sehebat apapun 369shop nantinya.
Apapun aku, dan bagaimana pun nantinya tiada terlepas aku dari kehendakNya, aku bersyukur atas rejeki yang kuperoleh, aku bersyukur atas nikmat yang telah dilimpahkan, aku menerima atas segala cobaan, serta cacat fisik yang telah disematkan Nya pada ku, meski mimpi ku tiada batas namun aku bergantung pada kuasa Nya
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. QS. Ath-Thalaq : 4
Sepenggal Galah Bambu
Dan ketika senja itu ditepis malam.. bisikan angin menyapa
dalam hampa diantara sepinya jagad raya, berselimut gelap
mencekam, menambah nelangsa, membumbui derita
aku tersadar dari realita tak berujung
disebelahku pertentangan paradigma dan ideologi
dibelakangku saling melempar, dan menyeru “Kambing Hitam”
Kucoba melompati mimpi-mimpi idealisme… aku tak mau lari, mungkin hanya melompat
Tapi apa ini ? ? ? apa ini ditanganku ? ? ?
aku “Pengangguran Menulis Mimpi”
dengan menggenggam sepenggal galah bambu, . . . kutopang diri bepijak dengan kedua kaki diatas bumi…
aku tak mau menjadi palsu, dan “Maaf”, aku bukan boneka “Bapak”
dan ketika semua kembali lagi, seperti harmoni siklus yang samar, Pagi datang lagi . . .
( Sepenggal Galah Bambu )
Penawaran Promosi Untuk Blogger
ADA YANG LEBIH MENARIK LAGI, KHUSUS UNTUK PENGGUNA
Mendapat Dobel Potongan Harga
Waktu menunjukan pukul 23.30, terdengar jelas detak jarum jam yang menempel di dinding kamar kost Yusuf, terlihat beberapa cicak berkejar-kejaran di langit-langit kamarnya, sesaat Yusuf mulai meneteskan air mata.
Lima tahun yang lalu, tepatnya saat Yusuf dan Aisyah bersekolah di kampungnya, di sebuah Madrasah Aliyah Negeri yang terletak di pinggiran kampung, masa remaja mereka yang terbalut nuansa syahdu itu adalah masa terindah bagi Yusuf.
Hari demi hari mereka lalui dengan beragam kegiatan positif, mengikuti pengajian rutin di Musholla dan mengajar anak-anak mengaji, meskipun tak pernah terucap, namun di hati mereka tersimpan rasa cinta yang begitu dalam, entah seberapa dalamnya, bahkan mungkin untuk menyelaminya perlu waktu satu tahun cinta.
Kamis pagi setelah mata pelajaran olah raga, tanpa sebab yang pasti Aisyah jatuh pingsan, setengah sekolah gempar dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi padanya, maklumlah kejadian serupa sangat jarang terjadi di sekolah itu, selain itu rasa kekeluargaan yang begitu kental juga merupakan faktor yang cukup dominan mempengaruhi, mungkin rasa seperti itu sudah sangat jarang kita temui di kota.
Di kelas tampak Yusuf sangat gelisah memikirkan sesuatu yang terjadi pada Aisyah, ritme jantungnya semakin lama semakin kencang, suara detak itu mungkin sekencang beduk yang berdentum dalam lomba takbiran malam lebaran.
Ribuan tarikan nafas panjang telah dilakukan Yusuf untuk menenangkan diri, namun itu tak memberikan ketenangan sedikitpun, bahkan kini seluruh ruang di otak Yusuf telah dipenuhi sejuta gambaran kemungkinan yang terjadi pada Aisyah.
Teng teng teng begitu bel akhir sekolah berbunyi, Yusuf secepat kilat memacu sepeda tua warisan kakeknya menyusuri jalan setapak menuju rumahnya, begitu sampai di rumah, dengan serta merta dia berganti pakaian, kemudian di kayuhnya lagi pedal sepeda itu sekuat tenaga laksana seorang pembalap dunia yang membela reputasi negaranya di lintasan sirkuit waktu tak berujung.
Disandarkannya sepeda tua itu pada sebatang pohon jambu di pekarangan rumah Aisyah. Masih terlintas kenangan masa kanak-kanak Yusuf dulu ketika dia terjatuh dari pohon itu karena digigit semut demi untuk mengambilkan buah jambu untuk Aisyah.
“Assalamualaikum” ucap Yusuf tatkala dirinya tiba di pintu rumah Aisyah yang reot,
“Wa’alaikum salam”, sahutan parau dari ayah Aisyah menimpali.
Begitu masuk dan dipersilakan duduk, tanpa basa basi Yusuf menanyakan apa sebenarnya yang menimpa Aisyah, tapi Yusuf tak mendapat jawaban yang memuaskan, yang mereka tahu hanyalah beberapa hari terakhir Aisyah mengeluh sakit pada bagian kepalanya, ada benjolan di bagian belakang kepalanya, ibunya menuturkan. Tampak di salah satu sudut ruangan Aisyah terbaring tak berdaya, lemah seakan kehilangan sepertiga nyawanya, rintihannya lirih mengiris kalbu, terasa begitu sakitnya derita yang dialami Aisyah, sungguh memilukan dan tragis, hati Yusuf seakan hancur menyaksikan sang dara terkasih tersiksa, maklumlah keluarga Aisyah tergolong miskin di kampung tersebut ditambah lagi jauhnya jarak ke kota terdekat yang memakan waktu sepuluh jam perjalanan dengan kendaraan bermotor.
Seminggu setelah hari tersebut akhirnya diketahui apa sebenarnya telah menimpa Aisyah. Informasi tersebut disampaikan oleh seorang dokter dari kota, anak salah satu penduduk kampung yang kebetulan sedang mengunjungi orang tuanya, Kanker.
Tak terbendung lagi kesedihan bagi Yusuf, rasanya kenyataan itu terlalu berat untuk diterimanya, belum lagi berjuta mimpi Aisyah yang pernah disampaikan pada Yusuf harus pupus, hilang seperti asap yang terbawa angin sore.
Tubuh putih mulus itu kini kurus kering, matanya semakin sayu, suara indahnya kini hanya terdengar sayup-sayup, tak sanggup rasanya Yusuf menyaksikan keadaan perempuan terkasihnya itu, tak ada yang bisa dilakukan keluarga dan para tetangga, hanya doa dan obat-obatan tradisional yang bisa mereka berikan. Bahkan kunjungan dari petugas kesehatan kampung pun hanya bisa pasrah meski sudah segenap kemampuan mereka kerahkan untuk Aisyah. Yusuf kini semakin kurus, raganya kini seperti ikut merasakan derita yang dialami sang gadis berkerudung biru itu.
Di tengah terik matahari siang itu pak Amin dan Ridwan tengah sibuk menggali, mereka mempersiapkan lubang 2 x 1 meter untuk tempat beristirahatnya Aisyah, minggu malam tadi Aisyah dijemput Yang Maha Kuasa, kanker itu telah menyelimuti hari-hari terakhir hidup Aisyah, hal ini pula yang membekas dalam jalan hidup Yusuf. Tangisnya hari itu seperti sebuah pelampiasan kekesalan berkepanjangan pada keterbatasan dan kemiskinan yang mencekik sebagian orang di dunia, Yusuf bertekad untuk bisa menjadi dokter demi bisa membantu sesama dan membayar pengorbanan Aisyah, cintanya yang kini terbalut kafan putih seputih awan siang itu.
Pukul 03.45 pagi, Yusuf menangis, kini dirinya sedang mencoba meraih mimpi untuk menjadi seorang dokter. Kanker yang merebut Aisyah darinya telah memacu motivasi besar baginya. untuk menjadi seorang dokter. Dia ingin mengabdikan diri melawan penyakit itu, menolong kaum miskin, menghancurkan sekat keterbatasan dan kemiskinan. Dan kini dia telah sukses menjalani studinya, dialah dokter muda baik hati yang ramah, Dia dokter Yusuf.
Oleh : Dhani_Yadi ( Pengangguran Menulis Mimpi )
Kupersembahkan tulisan ini . . .
Untuk mereka yang telah meninggal direnggut kanker
Untuk mereka para Dokter yang bersedia membantu kaum tak mampu
Untuk kekasihku tercinta yang senantiasa memberi semangat dan cinta untuk-ku ( 90 )
Untuk seluruh keluargaku, khususnya kedua orang tuaku tersayang
Kenapa Terjadi
Fiuh… Malam ini rasanya terlalu berat.., kucoba meredakan sedikit beban pikiran dari masalah hidup..Kuliah dan lainnya.. Apalagi setelah tadi komunikasi via telepon dengannya terasa kurang pas.., mungkin pengaruh cuaca yang agak panas dan kesibukan yang menyita waktunya, seperti yang disampaikannya tadi.
24.10 WITA. Kuambil es cream dan secangkir sirup leci, untuk kudapan kupilih selembar roti tawar dengan balutan selai coklat. Habis sudah semuanya disantap namun pikiran ini masih terasa kacau, bayangannya masih menari di alam pikirku, hampir setiap detik terngiang suara manjanya di telinga.. Ya, hal inilah yang kutakutkan, tanpa ada awal.. Tak disadari datang dan akhirnya terlanjur terjebak rasa, aku takut, takut untuk harus jatuh dalam sungai cinta, rasanya perahuku tak pantas untuk berlabuh di pelabuhan hatinya. Aku tahu aku tak pantas dan aku tak ingin ini membebaniku karena rasanya tak mungkin untuk aku memilikinya.. Ya, siapalah diriku, seorang fakir yang cacat bahkan mungkin hina.. Ya, itulah aku si Pengangguran Menulis Mimpi.. Tak pantas untuknya.. Meski terlanjur aku jatuh cinta.. Ah bayanganmu masih menghantuiku.. Kau unik dan.. Ah sudahlah.. Semoga kau sedang bermimpi indah sekarang
24.37 WITA
Kembali ( 3 )
April 2009, Ketika dia menyibak tirai kelam sejarah hidupnya, dia mendapat jawaban, kealfaan dirinya terhadap Sang Pencipta selama ini telah menjadi bumerang baginya, dia sadar, tak ada sesuatu yang terjadi begitu saja tanpa sebuah sebab.
Pagi itu, diantara batang pohon mangga yang gersang dia menyandarkan pundaknya, dia teringat, berapa tahun silam pohon mangga ini adalah pohon yang subur dan senantiasa memberikan buah terbaiknya, namun kini, yang diberikannya hanyalah daun kering yang senantiasa berjatuhan di atas tanah.
Tersadar akan sebuah realita, dia mencoba bangkit mencari makna hidupnya, mencoba membenahi kusutnya, namun kini ada satu hal yang begitu indah hadir menemaninya.
Dia tahu, bukan saatnya untuk serakah dan terlalu dini untuk memiliki, karena dia tahu, Tuhan akan memberikan kesempatan, dan akan dijawab oleh waktu
To be continue . . .















































KOMENTAR